WIWIK YULIANA

BUDIDAYA PERAIRAIRAN 2011, FAKULTAS PERIKANAN DAN ILMU KELAUTAN, UNIVERSITAS RIAU

Rabu, 03 April 2013

Bacillariaphyceae (Diatomae)



BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang
Salah satu karakteristik paling penting dari ganggang diatom adalah dinding sel (cangkang) yang terbuat dari silikon dioksida terhidrasi (silika).Ini adalah karakteristik unik yang membedakannya dari jenis ganggang lain.Dinding sel silika ini mengendap menjadi sedimen di dasar laut setelah diatom mati.Cangkang tersebut disebut pula sebagai frustule yang biasanya memiliki dua sisi asimetris.Terdapat banyak lubang-lubang kecil dan areola yang ditemukan pada cangkang ganggang diatom.Diatom umumnya berwarna kecoklatan atau kekuningan karena memiliki klorofil A, klorofil C, dan karotenoid fucoxanthin yang terdapat dalam plastida.Pigmen tersebut memungkinkan diatom menghasilkan makanan sendiri melalui fotosintesis.
Reproduksi aseksual ganggang diatom terjadi dengan pembelahan biner, di mana setiap sel anak menerima salah satu dari dua frustule sel induk.Diatom juga mampu bereproduksi secara seksual yang menghasilkan zigot berukuran relatif besar dibandingkan induknya.Segera setelah siklus hidup ganggang selesai, cangkangnya kemudian mengendap di dasar badan air.Cangkang yang tidak membusuk kemudian terakumulasi dan membentuk sedimen yang disebut ‘kieselguhr’ atau tanah diatom.Lapisan diatom ini bersifat lunak dan ringan yang sering pula disebut batu diatomit.Diatomit digunakan sebagai bahan isolasi karena kemampuannya menyerap suara dan panas serta bahan campuran dinamit dan bahan peledak lainnya.
1.2. Rumusan masalah
Rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Bagaimana morfologi dari Bacillariophyceae?
2.      Seperti apa siklus hidup dari Bacillariophyceae?
3.      Bagaimana habitat dan penyebaran dariBacillariophyceae?
1.3. Tujuan
Adapun tujuan pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui morfologi dari Bacillariophyceae
2.      Untuk mengetahui siklus hidup dari Bacillariophyceae
3.      Untuk mengetahui habitat dan penyebaran dariBacillariophyceae
1.4. Manfaat
Adapun manfaat yang diperoleh dalam pembuatan makalah ini yang penulis peroleh yakni sebagai berikut:
1.      Mengetahui bagaimana morfologi, siklus, habitat dan penyebaran fitoplankton terutama darikelompok Bacillariophyceae
2.      Melatih dalam pembuatan karya-karya tulis ilmiah yang baik
3.      Sebagai sumber nilai tugas pada mata kuliah planktonologi air tawar bagi dosen yang mengajar.



BAB II
TUNJAUAN PUSTAKA
2.1. Klasifikasi dan Morfologi
Yurisman, dkk 2004 menyatakan Diatom adalah ganggang (algae) renik yang termasuk dalam;
Divisio             :     Thallophyta
Subdivision     :     Algae
Kelas               :     Diatome (Bacillariophyta)
Ordo                :     - Centrales
-    Pennales
Termasuk golongan Diatomae adalah Centrales dan pennales.Kedua golongan ini dibedakan atas dasar bentuknya.Ordo Cetrales bentuknya seperti silinder dan sebagian besarhidup di laut.Beberapa contoh di antarnya adala; Planktonella, Cyclotella, Coscinodiscus, Chaetoceros, Melosira, Skeletonema, dll.Sedangkan ordo Pennales berbentuk lonjong, memanjang sepert ganda, seperti perahu atau seperti ketupat.Kebanyakan hidup di air tawar.Beberapa contoh di antaranya adalah Synedra, Pleurosigma, Naviculs, Nitzchia, Amphora, dll.(Yurisman, dkk 2004).
Dinding sel diatom yang halus bermotif, dengan titik-titik dan garis-garis yang mencirikan genera tertentu dan spesies. Mereka belajar untuk waktu yang lama oleh microscopists sebelum mereka datang ke kepentingan limnologists dan akibatnya tubuh besar informasi tentang habitat yang spesies tertentu terjadi telah terakumulasi. Rekonstruksi besar lingkungan masa lalu yang mungkin dari analisis diatom dalam sedimen. Slide mikroskop permanen dari mereka dengan mudah dapat menjadi persiapan preparet dari dinding diatom (frustules) dibuat dengan memanaskan sedimen dengan zat pengoksidasi seperti asam nitrat dan resuspention dari diatom residu dalam air distellid. Diatom dinding dari ke bagian yang tumpang tindih diselenggarakan bersama oleh band-band dan ada empat kelompok utama dibedakan oleh pola dinding theri.(Brian, 1949).
Sel diatom yang terkandung dalam dinding sel yang unik silikat (asam silikat) yang terdiri dari dua katup yang terpisah (atau kerang). Silika biogenik bahwa dinding sel terdiri dari yang disintesis secara intraseluler oleh polimerisasi monomer asam silikat. Bahan ini kemudian diekstrusi dengan eksterior sel dan ditambahkan ke dinding. Dinding sel diatom juga disebut frustules atau tes, dan dua katup biasanya tumpang tindih satu atas yang lain seperti dua bagian dari sebuah cawan petri. Pada sebagian besar spesies, ketika diatom membelah menghasilkan dua sel anak, setiap sel menyimpan salah satu dari dua bagian dan tumbuh setengah lebih kecil di dalamnya. Akibatnya, setelah setiap siklus pembelahan ukuran rata-rata sel diatom dalam populasi semakin kecil. Setelah sel-sel tersebut mencapai ukuran minimum tertentu, bukan hanya membagi vegetatif, mereka membalikkan penurunan ini dengan membentuk sebuah auxospore. Ini memperluas dalam ukuran untuk menimbulkan sebuah sel jauh lebih besar, yang kemudian kembali ke ukuran-divisi berkurang. Auxospore produksi hampir selalu dikaitkan dengan meiosis dan reproduksi seksual.(http://id.wikipedia.org/wiki/Diatom).
Diatom (filum Bacillariophyta) yang uniseluler, meskipun banyak spesies agregat menjadi rantai atau bintang-seperti sel groups.diatom diapit oleh dinding sel sebagian besar terbuat dari silika (SiO2), shell kaca-kaca seperti material.this, atau frustules, terdiri dari dua bagian erat pas sering menyerupai box.the datar, bulat, atau memanjang frustule biasanya memiliki perforasi rumit dan ornamen seperti duri atau tulang rusuk, membuat diatom sangat cantik bila dilihat di bawah frustule microscope.the memungkinkan cahaya untuk melewati, sehingga mencolok cokelat keemasan kloroplas dapat menangkap energi cahaya untuk perforasi menit photosynthesis.the memungkinkan gas terlarut dan nutrisi untuk masuk dan exit.the tenggelamnya terbuka-laut diatom bawah lapisan permukaan baik-sering diperlambat oleh tetesan minyak di sel mereka dan duri pada warna karakteristik frustules.(Peter castro dan Michael E. Huber, 1949).
2.2. Reproduksi
Perkembangbiakannya pada umumnya dengan pembelahan sel. Sebuah sel induk akan terbelah menjadi dua buah sel anak. Salah satu sel anak itu mendapatkan bagian tutup kotak, dan sel anak satunya lagi mendapatkan bagian dasar kotak. Seperti halnya pembelahan sel pada umumnya, setiap sel anak yang mendapat bagian tutup kotak , besarnya akan sama dengan sel induknya. Hal ini disebabkan masing-masing sel anak, baik yang mendapat bagian tutup maupun dasar kotak, nantinya senantiasa akan manggunakan cangkang sel induknya itu menjadi tutup kotak.(Yurisman, dkk 2004).
Diatom berkembang biak terutama dengan pembelahan sel, jenis reproduksi aseksual. Belahan tumpang tindih frustules terpisah, dan masing-masing mengeluarkan sebuah, half.diatoms baru yang lebih kecil juga dapat mengembangkan sel reproduction.some telur, lain mengembangkan sperm.fertilization flagellated maka hasil dalam pengembangan tahap resisten dikenal sebagai auxospores.
Kondisi lingkungan yang kondusif, seperti nutrisi yang memadai dan suhu, memicu periode reproduksi yang cepat disebut blooms.this adalah fenomena umum yang juga terjadi pada mekar algae.during lainnya, diatom yang paling mendapatkan semakin kecil, sebagian karena mereka menggunakan sampai silika terlarut dalam air dan sebagian karena frustule kecil menjadi satu lebih besar dalam banyak ukuran cell.Full baru dapat kembali oleh perkembangan auxospores. Para auxospores akhirnya menimbulkan sel-sel yang lebih besar yang menampilkan karakteristik frustule dari spesies.
(Peter castro dan Michael E. Huber, 1949).
Dengan cara pembelahan sel tersebut, maka makin lama makin banyak jumlahnya sel-sel anakan yang ukurannya semakin mengecil. Pembelahan ini terus berlanjut sehingga sel hasil pembelahan akan mempunyai ukuran yang semakin mengecil. Apabila sudah sampai pada batas terkecil ukuran sel, pembelahan terhenti sebentar dan sel akan  dan sel akan keluar dari cangkangnya. Isi sel tanpa cangkang itu akan membesar hingga ukurannyasama dengan induknya yang semula. Setelah itu barulah mereka memebentuk cangkang yang baru.Isi sel yang keluar dari cangkangnya itu kita namakan Auksospora.(Yurisman, dkk 2004).
Selain dengan pembelahan sel, Diatomae juga dapat membentuk mikrospora dan spora istirahat. Akan tetapi peranan kedua macam spora tersebut dalam cara perkembanganbiakan mereka masih belum kita ketahui dengan jelas. Jadi tidak merupakan cara perkembangbiakannya yang utama. Dan memeang hanya kadang-kadang saja kita menjumpainya.(Yurisman, dkk 2004).
2.3. Habitat dan Penyebarannya
Para frustules kaca diatom mati akhirnya mengendap di bagian bawah dari dasar laut. Di sini mereka dapat membentuk endapan tebal bahan mengandung silika yang mencakup sebagian besar dari dasar laut. Sedimen tersebut dikenal sebagai deposito fosil diatom ooze.huge sedimen ini sekarang dapat ditemukan pedalaman di berbagai bagian dari bahan mengandung silika world.the, atau tanah diatomaceous, ditambang dan digunakan dalam produk seperti filter untuk kolam renang, untuk mengklarifikasi bir , karena suhu dan isolator suara, dan sebagai abrasive ringan yang mungkin menemukan jalan mereka menemukan jalan mereka ke pasta gigi. (Peter castro dan Michael E. Huber, 1949).
Diatom adalah produsen utama sangat penting dalam danau, sungai, dan lahan basah. mereka sering dominan di plankton TOWS selama musim semi di oligotriphic-mesotrophic danau danau dan di benthos dari danau, sungai, dan lahan basah sepanjang tahun.The characristic mendefinisikan kunci diatom adalah silikon terbuat dr batu baiduri-kaca dinding sel yang disebut frustules frutule.this memiliki dua bagian, dan bagian cocok bersama untuk membuat memanjang, menyirip, atau bentuk form.centric melingkar centric yang umum di plankton, dan bentuk pennate yang umum di benthos. Para frustules dapat melekat pada rantai bentuk atau filamen dari banyak sel.
Para frustules tahan terhadap pembubaran, sehingga mereka dapat tetap dalam sedimen untuk beberapa waktu. Atribut ini membuat mereka alat yang berharga dalam paleolimnology (studi sejarah ekologi danau) dan dalam kedokteran forensik.Diatom berguna dalam studi paleolimnological karena mereka tenggelam dan menumpuk di sedimen dan meninggalkan catatan struktur komunitas diatom planktonik. Jika kondisi perubahan danau, komunitas diatom juga berubah. Isotop dapat digunakan sampai saat sedimen dengan kedalaman untuk menghubungkan perubahan ekologi disimpulkan dari frustules diatom ke teknik sequence.these temporal yang telah digunakan untuk menunjukkan bahwa curah hujan asam adalah hasil dari aspek industrialisasi dan lainnya penting dari sejarah danau, seperti fluktuasi salinitas atau trofik state.ruth Patrick, salah satu peneliti lingkungan terkemuka di Amerika Serikat, telah membuat diatom dan penggunaannya dalam studi lingkungan spesialisasinya. (walter k. Dodds, 1976).
Diatoms adalah pabrik fotosintesis efisien, memproduksi makanan yang sangat dibutuhkan (makanan menjadi diatom sendiri), seperti serta oksigen untuk bentuk-bentuk kehidupan lainnya. Mereka sangat penting air terbuka produsen primer pada kenyataannya regions. Beriklim sedang dan kutub, miliaran sel diatom dalam akun laut untuk bagian besar dan kuat dari karbon organik dan oksigen prodused di planet bumi.(Peter castro dan Michael E. Huber, 1949).
Sekitar setengah spesies hidup diperkirakan 12.000 diatom yang marine.most yang planktonik, tapi banyak menghasilkan struktur tangkai-seperti untuk dipasang pada batu, jaring, pelampung, dan permukaan lainnya. Buih kecoklatan kadang-kadang terlihat pada tumbuhnya atau akuarium kaca sering terdiri dari jutaan sel diatom. Beberapa dapat perlahan-lahan meluncur pada surfaces.a sedikit yang tidak berwarna dan memiliki klorofil tidak ada, hidup di permukaan rumput laut sebagai heterotrof.(Peter castro dan Michael E. Huber, 1949).




BAB III
PEMBAHASAN
Dalam taksonomi, protista adalah salah satu kingdom dalam sistem 5 kingdom danberanggotakan organisme eukariota uniseluler ataupun multiseluler sederhana danmemiliki kemiripan ciri dengan anggota kingdom Plantae (misalnya ganggang), Animalia(mencakup kelompok protozoa), maupun Fungi (misalnya Oomycota).Protista fotosintetik adalah organisme eukariot uniseluler dan multiseluler yang hidupdi air, tubuhnya belum dapat dibedakan antara akar, batang, dan daun serta memilikipigmen klorofil a, b, c, ataupun seperti yang dimiliki tumbuhan serta pigmen asesorislain yang dominan sehingga dapat melakukan fotosintesis seperti halnya dengantumbuhan. Oleh karena itu, protista fotosintetik lazim disebut dengan protista miriptumbuhan atau dengan istilah lain yaitu algae (tunggal, alga) atau ganggang.
Ganggangadalah istilah yang pernah digunakan untuk menyebutkan segala tumbuhan air sederhana.Ganggang terdiri dari ganggang uniseluler (bersel satu) dan ganggang multiseluler(bersel banyak).Ganggang uniseluler ada yang hidup sendiri (soliter) dan ada yang hidupsecara berkoloni.Ganggang multiseluler ada yang berbentuk benang (filamen) ataulembaran.Ganggang berbentuk lembaran memiliki struktur tubuh sederhana sehinggatidak dapat dibedakan antara akar, batang, dan daun.Struktur yang demikian disebut talusdan menyebabkan ganggang dikelompokkan pula dalam Thallophyta.Ganggang uniseluler soliter.Ganggang uniseluler soliter ada yang berbentuk bulat, oval atau seperti buah pir.Contohnya adalahChlorellayang tidak berflagellum.Ganggang uniseluler berkoloni.Ganggang uniseluler berkoloni adalah ganggang yanghidup berkelompok. Sel-sel dalam koloni saling bergantung satu sama lain sehingga tidak dapat bertahan hidup jika sendiri. Protoplasma antara satu sel dengan sel lain berhubunganmelalui pori-pori dinding sel. Koloni ganggang ini ada yang berbentuk cakram misalnyapada Gonium, berbentuk bola misalnya pada Volvox, atau berbentuk jala misalnya padaHydrodictyon.
Ganggang multiseluler.Contoh ganggang multiseluler berbentuk filament atau benang adalahOedogoniumdanSpirogyra.Contoh ganggang multiseluler berbentuk lembaran adalahLaminariadanUlva.Sebagian ahli biologi mengklasifikasikan ganggang berdasarkan pada pigmendominan, komponen penyusun dinding sel, jumlah dan posisi flagelum, serta bentuk cadangan makanan.


BAB IV
PENUTUP
4.1. Kesimpulan
a.Diatom termasuk Alga uniseluler yang merupakan penyusun fitoplankton baik di perairan tawar maupun di laut.
b.Hasil pembelahan sel menjadi dua bagian yaitu bagian atas (epiteka) dan bagian bawah(hipoteka). Selanjutnya masing-masing belahan akan membentuk pasangannya yang baruberupa pasangan penutupnya.
c.Distribusi fitoplankton secara horizontal lebih banyak dipengaruhi faktor fisik berupapergerakan masa air. Distribusi temporal banyak dipengaruhi oleh pergerakan matahariatau dengan kata lain cahaya sangat mendominasi pola distribusinya.
d.Mikroalga dari kelasBacillariophyceaemendominasi komunitas fitoplankton di lintangtinggi di daerah Artik dan Antartika, pada zona neritik daerah tropis dan perairan lintangsedang (temperate), dan pada daerah upwelling.
e.Ada dua kelompok rantai makanan yang ada di ekosistem laut yaitu rantai makanangrazing (grazing food chain) dan rantai makanan detrital (detritus food chain). Padaekosistem perairan organisme utama yang mampu memanfaatkan energi cahaya adalahtumbuhan hijau terutama fitoplankton.


4.2. Saran
Setelah pembuatan makalah ini dan presentasi oleh masing-masing kelompok maka diharapkan ada penjelasan pokok materikembali dari dosen pengajar kembali agar proses pembelajaran atau materi yang di bahas semakin jelas dan dipahami oleh seluruh mahasiswa yang mengikuti kuliah mata kuliah nutrisi ikan air tawar ini.


















Lampiran 1. Gambar Bacillariophyceae
Lyrella atlantica valve          Neidium cell

Asterionellopsis valve          
Sumber: Poweredby_mediawiki
DAFTAR PUSTAKA
Brian moss. 1949. Ecologi of fresh waters. Biack well science.
Castro.P, Michael. E, Huber, 1949. Marine Biology.Biack well science.
Gerald. D, Schmidt, Larry S.R. 1976. Foundations of parasitologi MC Grow Hill.Six edition.

http://id.wikipedia.org/wiki/diatom. 2011. wiki.  25 Februari 2013. 09.00 WIB.
Poweredby_mediawiki_.2012. wiki.  25 Februari 2013. 09.00 WIB.
Walter.K, Dodds, 2002.Ecology fresh water.Sandiego.Academic Press.
Yurisman, Sukendi. 2004. Biologi dan Kultur Pakan Alami. Pekanbaru.UNRI Press.

KEBUTUHAN NUTRIENT UNTUK LARVA IKAN HERBIVORA


BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar belakang
Kandungan nutrisi dari pakan ikan yang sangat dibutuhkan bagi pertumbuhan dan perkembangan ikan yang merupakan gizi yang memiliki manfaat yang besar untuk hidup dan kehidupan ikan selain itu juga merupakan faktor keberhasilan utama bagi kegiatan Budi Daya ikan terutama pakan yang bernutrisi tinggi yang merupakan sumber protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral bagi pemangsanya.
Nutrien sangat diperlukan oleh tubuh ikan, baik untuk pertumbuhan maupun untuk menghasilkan tenaga selain itu dibutuhkan untuk membangun otot, sel-sel jaringan tubuh, terutama bagi ikan-ikan muda. Kebutuhan nutrien berpariasi tergantung pada jenis ikannya, meskipun demikian nutrien merupakan unsur kunci untuk keperluan pertumbuhan dan kesehatan bagi seluruh jenis ikan. Secara garis besar kebutuhan protein pada setiap ikan 20-60% dari berat total makanan, namun kebutuhan optimalnya hanya 30-40%, lemak 8-10%, serta vitamin dan mineral masing-masing 1% (Asmawi, 1983).


1.2. Rumusan masalah
Rumusan masalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Nutrient apa yang di perlukan oleh larva ikan herbivora?
2.      Berapa banyak nutrient yang dibutuhkan larva ikan herbivora?
3.      Apa manfaat nutrient bagi larva ikan herbivora?
1.3. Tujuan
Adapun tujuan pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.      Untuk mengetahui nutrient yang di perlukan oleh larva ikan herbivora
2.      Untuk mengetahui banyak nutrient yang dibutuhkan larva ikan herbivora
3.      Untuk mengetahui manfaat nutrient bagi larva ikan herbivora
1.4. Manfaat
Adapun manfaat yang diperoleh dalam pembuatan makalah ini yang penulis peroleh yakni sebagai berikut:
1.      Mengetahui nutrient yang di perlukan oleh larva ikan herbivore
2.      Mengetahui banyak nutrient yang dibutuhkan larva ikan herbivore
3.      Mengetahui manfaat nutrient bagi larva ikan herbivora
4.      Melatih dalam pembuatan karya-karya tulis ilmiah yang baik
5.      Sebagai sumber nilai tugas pada mata kuliah Nutrisi Hewan Air bagi dosen pengajar.



BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Pemeliharaan Larva
Upaya untuk memacu laju pertumbuhan ikan ini telah banyak dilakukan melalui berbagai pendekatan antara lain melalui pelacakan potensi tumbuh (Rachmawati, 1999), optimalisasi suhu media budidaya (Hermanto, 2000) dan melalui pelacakan kebutuhan nutrisi (Mokoginta dkk, 1994).
Dalam jangka waktu 3-4 hari telur akan menetas, larva ikan herbivora belum langsung diberi pakan karena masih mengandung kuning telur. kuning telur akan habis dalam jangka waktu kurang lebih 6 hari. setelah kuning telur habis larva ikan diberi makanan berupa Cacing sutra atau Daphnia .
Dalam pemeliharaan larva selain memenuhi nutrisi kualitas air juga sangat diperlukan, Air pada akuarium diganti setiap 3-4 hari sekali pergantian air dilakukan dengan cara menyipon dengan menggunakan selang air. pergantian air akuarium harus dilakukan secara hati-hati agar benih ikan tidak ikut tersedot oleh selang. biasanya bila benih ikan tersedot selang maka akan menyebabkan benih ikan itu rusak atau stress. Bila menggunakan pemanas air / heater dalam penyiponan harus hati-hati pastikan heater telah dimatikan dengan cara mencabut kabel listriknya bila heater lupa dicabut maka ketika diganti dengan air baru pada akuarium heater akan pecah.

2.2. Nutrient yang dibutuhkan larva herbivora
Yurisman, Sukendi. 2004 menyatakan nutrisi atau gizi pakan yang sangat dibutuhkan bagi ikan yakni pakan alami (phytoplankton dan zooplankton), pakan buatan, suplemen yang merupakan makanan tambahan berupa mikroba hidup ataupun yang tidak hidup seperti probiotik (terutama untuk golongan Lactobacilli dan Bifidobacteria), vitamin, karbohidrat, lemak, asam amino, mineral dan lain-lain.
Menurut Djarijah dalam Sulastri (2003), kualitas pakan ikan dilihat dari macam sumber nutrisi dalam pakan ikan, dan selanjutnya akan menentukan tinggi rendahnya efisiensi pakan pada ikan. Selanjutnya Crus (1986) mengatakan bahwa pakan yang diberikan per hari biasanya dihitung berdasarkan bobot ikan yang digambarkan sebagai presentase dari bobot ikan. Jumlah pakan ikan yang disarankan adalah 20-25% untuk benih, 10-20% untuk ikan berukuran 50-500 gram, dan 3-5% untuk ikan besar.
Djuhanda (1981), menyatakan bahwa setiap oerganisme untuk kelangsungan hidupnya butuh makanan, makanan yang diambil dari bahan-bahan yang telah tersedia di alam. Berdasarkan makanan yang dimakan maka ikan dapat digolongkan menjadi ikan karnivora, herbivora dan omnivora. Banyaknya macam makanan untuk ikan dapat dikatakatan tidak terbatas, tetapi pada umumnya kebanyakan ikan adalah omnivor.
            ikan-ikan dari family osphronemus umumnya merupakan ikan pemakan tumbuhan. Ini dengan mudah dapat dibuktikan dengan memberikan makanan berupa daun-daunan atau tanaman lunak. Namun biasanya pada saat benih ikan dari family osphronemus suka memakan protozoa dan crustacea. Benih yang berukuran 10 cm memakan jasad dasar seperti trichoptera, tubificidae, moluska, jasad-jasad tersebut dimakan bersama-sama dengan tanaman air yang membusuk dan bahan organik lainnya (Susanto, 1987). 
Dalam Budidaya ikan secara tradisional, sumber nutrisi bagi  ikan berasal dari pakan alami. Sementara pada budidaya ikan secara intensif, sumber nutrisinya diprioritaskan berasal dari pakan buatan, namun bukan berarti pakan ikan alami tidak dibutuhkan dalam budi daya ikan secara intensif masih mutlak memerlukan pakan alami sebagai sumber nutrisi untuk memenuhi kebutuhan setiap pertumbuhannya, bahkan pakan alami ini ternyata perannya belum dapat digantikan oleh pakan buatan yang sekarang ini sudah ada terutama bagi benih ikan karena dilihat dari nilai nutrisinya yang relative tinggi dimana berkaitan erat dengan jumlah kalori yang dikandungnya serta memiliki biaya usaha yang relative rendah.
Kandungan zat gizi jasad pakan sangat menentukan pertumbuhan larva yang dipelihara. Plankton sebagai jasad pakan merupakan sumber protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral bagi pemangsanya. Sedangkan nilai nutrisi satu jenis phytoplankton juga bervariasi, sebab dipengaruhi oleh zat hara, kondisi lingkungan antara lain intensitas cahaya, lama pencahayaan, suhu dan lain-lain.
1.      Protein
Pakan yang diberikan hendaknya mengandung protein yang sesuai. Karena   protein merupakan gizi yang penting dan diperlukan oleh ikan untuk pemeliharaan tubuh, pembentukan dan penggantian jaringan tubuh, penambahan atau sintesis protein tubuh, pembentukan hormon, enzim, dan antibodi serta sebagai energi (Adelina, Boer dan Suharman 2004)
2.      Karbohidrat
Karbohidrat merupakan salah satu makro nutrient dan menjadi sumber energi utama pada manusia dan hewan darat. Pada ikan, tingkat pemanfaatn karbohidrat dalam pakan umumnya rendah pada khususnya hewan karnivora, karena pada ikan sumber energi utama adalah protein. Ikan karnivora lebih sedikit mengkonsumsi karbohidrat dibandingkan dengan omnivora dan herbivora. Selain itu ikan yang hidup diperairan tropis dan air tawar biasanya lebih mampu memanfaatkan karbohidrat dari pada ikan yang hidup diperairan dingin dan air laut.
Ikan laut biasanya lebih menggunakan protein dan lemak sebagai sumber energi dari pada karbohidrat, tetapi peranan karbohidrat dalam pakan ikan sangat penting bagi kehidupan dan pertumbuhan ikan. Berdasarkan hasil penelitian memperlihatkan bahwa ikan yang diberi pakan dengan kandungan protein tinggi tanpa karbohidrat dapat menyebabkan penurunan laju pertumbuhan dan retensi protein tubuh. Selain itu pakan yang mengandung karbohidrat terlalu sedikit akan menyebabkan terjadinya tingkat katabolisme protein dan lemak yang tinggi untuk mensuplai kebutuhan energi ikan dan menyediakan metabolisme lanjutan (intermedier) untuk sintesis senyawa biologi penting lainnya, sehingga pemanfaatan protein untuk pertumbuhan berkurang. Oleh karena itu pada komposisi pakan ikan harus ada keseimbangan antara karbohidrat, protein dan lemak, dimana ketiga nutrien tersebut merupakan sumber energi bagi ikan untuk tumbuh dan berkembang.
Karbohidrat merupakan senyawa organik yang tersusun dari atom karbon (C), hidrogen (H) dan Oksigen (O) dalam suatu perbandingan tertentu. Karbohidrat berdasarkan analisa proksimat terdiri dari serat kasar dan bahan ekstrak tanpa nitrogen. Karbohidrat biasanya terdapat pada tumbuhan termasuk pada gula sederhana, kanji, selulosa, karet dan jaringan yang berhubungan dan mengandung unsur C,H,O dengan rasio antara hidrogen dan oksigen 2:1 yang hampir serupa dengan H2O dan kemudian dinamakan ”karbohidrat”. Formula umum karbohidrat adalah Cn (H2O)2.
Karbohidrat adalah sumber energi yang murah dan dapat menggantikan protein yang mahal sebagai sumber energi. Selain itu karbohidrat merupakan Protein sparing effect yang artinya karbohidrat dapat digunakan sebagai sumber energi pengganti bagi protein dimana dengan menggunakan karbohidrat dan lemak sebagai sumber bahan baku maka hal ini dapat mengurangi harga pakan. Pemanfaatan karbohidrat sebagai sumber energi dalam tubuh dapat juga dipengaruhi oleh aktivitas enzim dan hormon. Enzim dan hormon ini penting untuk proses metabolisme karbohidrat dalam tubuh seperti glikolisis, siklus asam trikarboksilat, jalur pentosa fosfat, glukoneogenes dan glikogenesis. Selain itu dalam aplikasi pembuatan pakan karbohidrat seperti kanji, zat tepung, agar-agar, alga, dan getah dapat juga digunakan sebagai pengikat makanan (binder) untuk meningkatkan kestabilan pakan dalam air pada pakan ikan dan udang. http://jenieb-nautika.blogspot.com/2009/10/nutrisi-ikan.html.
3.      Macam Asam amino
Ada 20 macam asam amino, yang masing-masing ditentukan oleh jenis gugus R atau rantai samping dari asam amino. Jika gugus R berbeda maka jenis asam amino berbeda. Gugus R dari asam amino bervariasi dalam hal ukuran, bentuk, muatan, kapasitas pengikatan hidrogen serta reaktivitas kimia. Kedua puluh macam asam amino ini tidak pernah berubah. Asam amino yang paling sederhana adalah glisin dengan atom H sebagai rantai samping. Berikutnya adalah alanin dengan gugus metil (-CH3) sebagai rantai samping. http://www.biology.arizona.edu \biochemistry\ biochemistry. html, 2003, The Biology Project-Biochemistry.
Nama-nama asam amino: Alanin (alanine), Arginin (arginine), Asparagin (asparagine), Asam aspartat (aspartic acid), Sistein (cystine), Glutamin (Glutamine), Asam glutamat (glutamic acid), Glisin (Glycine), Histidin (histidine), Isoleusin (isoleucine), Leusin (leucine), Lisin (Lysine), Metionin (methionine), Fenilalanin (phenilalanine), Prolin (proline), Serin (Serine), Treonin (Threonine), Triptofan (Tryptophan), Tirosin (tyrosine), Valin (valine).
Ikatan peptide, Kedua puluh macam asam amino saling berikatan, dengan urutan yang beraneka ragam untuk membentuk protein. Proses pembentukan protein dari asam-asam amino ini dinamakan sintesis protein. Ikatan antara asam amino yang satu dengan lainnya disebut ikatan peptida. Ikatan peptida ini dapat disebut juga sebagai ikatan amida. Pada protein atau rantai asam amino, gugus karboksil (-COOH) berikatan dengan gugus amino (-NH2). Setiap terbentuk satu ikatan peptida, dikeluarkan 1 molekul air (H2O).
2.3. Nutrien yang berasal dari pakan alami
Yurisman, Sukendi. 2004 menyatakan, Adapun contoh nutrisi atau makanan ikan yang berasal dari pakan alami yakni:
1.      Chlorella
Chlorella merupakan ganggang hijau bersel tunggal (uniseluller). Sel-selnya berdiri sendiri-sendiri, berbentuk bulat atau bulat telur dan berukuran diameter   3-8 mikron.
2.      Diatomae
Diatomae sering disebut dengan ganggang kersik atau ganggang kelikir, karena memiliki dinding sel yang mengandung pasir (silikat,SiO2). Diatomae terdiri dari dua golongan yakni Centrales yang sebagian besar hidup di laut dan Pennales sebagian besar hidup di air tawar.


3.      Tetraselmis
Tetraselmis termasuk dalam dalam golongan tumbuhan karena memiliki khlorofil, tetapi juga dapat bergerak seperti hewan karena memiliki bulu cambuk sebanyak 4 buah, Tetraselmis berukuran 7-12 mikron.
4.      Artemia
Artemia merupakan bangsa udang-udangan yang mempunyai ukuran relative kecil dan bila dewasa berukuran antara 10-15 mm dengan berat sekitar 10 mg.
5.      Kutu air
Organism ini bisa ditemukan dalam kultur Kutu Air seperti Daphnia sp       (1000-5000 mikron) dan Moina sp (500-1000 mikron).
6.      Jentik-jentik nyamuk
Jentik-jentik nyamuk merupakan salah satu stadia dari siklus hidup nyamuk, dapat dimanfaatkan sebagai pakan alami, terutama untuk burayakikan yang memerlukan pakan yang lebih besar dari pakan alami yang ada. Dll.
Untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan serta kelangsungan hidupnya ikan memerlukan pakan yang cukup dari segi kualitas dan kuantitas. Pakan yang bermutu baik, salah satunya ditentukan oleh kandungan gizi (protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral) dalam komposisi yang tepat (seimbang). Ikan nila adalah ikan omnivora yang cenderung herbivora sehingga lebih mudah beradaptasi dengan jenis pakan yang dicampur dengan sumber bahan nabati seperti bungkil kedelai, teung jagung, tepung biji kapuk, tepung enceng gondok, tepung alfafa (Sayed 1999).
Protein merupakan nutrien yang sangat dibutuhkan oleh ikan untuk perbaikan jaringan tubuh yang rusak, pemeliharaan protein tubuh untuk pertumbuhan, materi untuk pembentukan enzim dan beberapa jenis hormon dan juga sebagai sumber energi (NRC 1993).

2.4. Jumlah nutrien yang dibutuhkan larva herbivora
Tabel 1. Kebutuhan nutrisi ikan nila (Oreochromis sp), BBAT Sukabumi (2005).
Nutrien
Jumlah Yang Dibutuhkan

Sumber Referensi

Protein

Larva  35%
Benih– konsumsi 25-30%

Santiago et al (1982)
Santiago et al (1986)

Asam amino


-Arginin

4,2%

Santiago & Lovell (1988)

-Histidin

1,7%
-Isoleusin

3,1%
-Leusin

3,4%

-Lysine

5,1%

-Metionin + Cystin

3,2% ( Cys 0,5 )
-Phenilalanin + Tyrosin

5,5% (Tyr 1,8 )

-Threonin

3,8%

-Tritopan

1,0%

-Valin

2,8%

Lemak

6–10%

Asam lemak essensial

0,5 % - 18:2n-6

Jauncey & Ross (1982)

Pospor

< 0,9 %

Takeuchi et al (1982)

Karbohidrat

25 %

Watanabe et al (1980)

Digestibiliti energy (DE)
2500 – 4300 Kkal / kg

Jauncey & Ross (1982)

Gizi-dan energi-efisiensi retensi yang diadaptasi oleh Tantikitti & Chimsung (2001).
1. Protein produktif value (PPV) ¼ 100
(% akhir tubuh protein berat badan Akhir)) (% body pro-Tein awal berat badan awal)/asupan protein total.
2. Energi produktif nilai ¼ 100 (% tubuh energi final  berat badan Akhir) (% tubuh energi awal berat badan Initial)/asupan energi total.
3. Lipid produktif nilai (LPV) ¼ 100 (berat badan Akhir  lemak tubuh Akhir) (berat badan awal  Initial lemak)/asupan lemak total.
Menurut Watanabe (1988), kebutuhan ikan akan protein dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti ukuran ikan, suhu air, kadar pemberian pakan, energy dalam pakan dan kualitas protein. Karbohidrat merupakan salah satu sumber energi dalam makanan ikan.
Karbohidrat dalam pakan disebut dengan BETN atau Bahan Ekstrak Tanpa Nitrogen atau NFE (Nitrogen Free Extract). BETN ini mengandung karbohidrat, gula, pati dan sebagian besar berasal dari hemiselulosa. Daya cerna karbohidrat sangat bervariasi tergantung dari kelengkapan molekul penyusunnya.
2.4. Faktor mempengarui kualitas pakan
Makanan atau pakan berfungsi sebagai sumber energi dan materi bagi kehidupan dan pertumbuhan ikan . Menurut ELLIOT, (1979) Pakan mempengaruhi laju pertumbuhan, produksi, kesehatan, kelangsungan hidup, dan reproduksi ikan Keberhasilan usaha perikanan budidaya dapat terwujud apabila tiga faktor penentu yang saling berpengaruh diperhatikan yaitu ketersediaan benih yang tepat kualitas dan kuantitasnya, ketersediaan pakan sesuai kebutuhan serta lingkungan yang mendukung. LANNAN et al. (1983) mengatakan bahwa dalam upaya untuk meningkatkan produksi ada 3 aspek penting yang perlu diperhatikan yaitu pempukan, padat penebaran dan pakan tambahan .
a.       Kualitas pakan yang baik dapat ditentukan
antara lain :
-     Tidak mudah hancur dalam air, minimal 10 menit tahan dalam air dengan tidak hancur
-     Untuk pakan tenggelam, tidak terlalu cepat sampai dasar ada fase melayang
-     Memiliki aroma yang merangsang ikan
-     Dapat disimpan minimum 2 bulan tanpa merusak kualitas
b.       Kualitas pakan yang kurang baik dapat dipastikan dengan :
-     Jika dipegang terasa banyak butiran debu
-     Warna keputihan karena terdapat jamur.
-     Mudah hancur dalam air
-     Aroma berkurang dari yang seharus-nya. (AzwAR, 2003)
Beberpa factor yang dapat dijadikan factor untuk dijadikan patokan penentuan apakah pakan plankton itu termasuk pakan alami yang baik bagi ikan yaitu:
a.       Bentuk dan ukuran sesuai dengan lebar bukaan mulut ikan pemakannya.
b.      Mudah diproduksi secara missal (mudah dibudi dayakan)
c.       Kandungan sumber nutrisinya tinggi
d.      Isi sel padat dan mempunyai dinding sel yang tipis sehingga mudah di cerna oleh ikan.
e.       Cepat berkembangbiak dan memiliki toleransi yang cukup tinggi terhadap perubahan lingkungan sehingga lestari ketersediaannya.
f.       Tidak mengeluarkan senyawa beracun
g.      Gerakannya menarik bagi ikan tetapi tidak terlalu aktif sehingga mudah ditangkap.


BAB III
PEMBAHASAN
Pasca egg-yolk merupakan masa yang sangat kritis bagi ikan, karena pada saat itu kuning telur yang ada pada tubuh sudah tidak ada lagi dan nutrisi yang tersedia dari dalam tubuhnya telah habis. Pada saat egg-yolk habis larva harus mulai aktif mencari makan untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bagi tubuhnya, kegagalan pemenuhan nutrisi berarti akan menderita kekurangan nutrisi dan bila kondisi ekstrim larva akan mati.  Kematian larva dalam usaha pembenihan banyak dialami karena nutrisi masih mengandalkan pakan alami.
Selain nutrisi kodisi kualitas peraian juga sangat diperlukan bagi larva seperti penyiponan, aerisasi dan pengaturan suhu dalam perairan. Pakan harus memenuhi persyaratan tertentu diantaranya harus sesuai dengan bukaan mulut, dan memenuhi nutrient tinggi yaitu protein, lemak, karbohidrat, asam amino, vitamin serta banyak lain nya.
Nutrient biasa yang digunakan bisa berasal dari pakan alami maupun pakan buatan yang diramu oleh manusia dari bahan tertentu. Adapun pakan alami seperti Chlorella merupakan ganggang hijau bersel tunggal (uniseluller). Sel-selnya berdiri sendiri-sendiri, berbentuk bulat atau bulat telur dan berukuran diameter   3-8 mikron.
Diatomae sering disebut dengan ganggang kersik atau ganggang kelikir, karena memiliki dinding sel yang mengandung pasir (silikat,SiO2). Diatomae terdiri dari dua golongan yakni Centrales yang sebagian besar hidup di laut dan Pennales sebagian besar hidup di air tawar.
Tetraselmis termasuk dalam dalam golongan tumbuhan karena memiliki khlorofil, tetapi juga dapat bergerak seperti hewan karena memiliki bulu cambuk sebanyak 4 buah, Tetraselmis berukuran 7-12 mikron. Serta banyak pakan alami lainnya.
Menurut Watanabe (1988), kebutuhan ikan akan protein dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti ukuran ikan, suhu air, kadar pemberian pakan, energy dalam pakan dan kualitas protein. Karbohidrat merupakan salah satu sumber energi dalam makanan ikan.
Secara garis besar kebutuhan protein pada setiap ikan 20-60% dari berat total makanan, namun kebutuhan optimalnya hanya 30-36%. ikan karnivora lebih banyak membutuhkan protein dari pada ikan herbivora. Selain itu ikan yang hidup diperairan tropis dan air tawar biasanya lebih mampu memanfaatkan karbohidrat dari pada ikan yang hidup diperairan dingin dan air laut.
Menurut Djarijah dalam Sulastri (2003), kualitas pakan ikan dilihat dari macam sumber nutrisi dalam pakan ikan, dan selanjutnya akan menentukan tinggi rendahnya efisiensi pakan pada ikan. Selanjutnya Crus (1986) mengatakan bahwa pakan yang diberikan per hari biasanya dihitung berdasarkan bobot ikan yang digambarkan sebagai presentase dari bobot ikan. Jumlah pakan ikan yang disarankan adalah 20-25% untuk benih, 10-20% untuk ikan berukuran 50-500 gram, dan 3-5% untuk ikan besar.
ikan-ikan dari family osphronemus umumnya merupakan ikan pemakan tumbuhan. Ini dengan mudah dapat dibuktikan dengan memberikan makanan berupa daun-daunan atau tanaman lunak. Namun biasanya pada saat benih ikan dari family osphronemus suka memakan protozoa dan crustacea. Benih yang berukuran 10 cm memakan jasad dasar seperti trichoptera, tubificidae, moluska, jasad-jasad tersebut dimakan bersama-sama dengan tanaman air yang membusuk dan bahan organik lainnya (Susanto, 1987). 
Adapun Nama-nama asam amino yang diperlukan unutuk ikan yakni Alanin (alanine), Arginin (arginine), Asparagin (asparagine), Asam aspartat (aspartic acid), Sistein (cystine), Glutamin (Glutamine), Asam glutamat (glutamic acid), Glisin (Glycine), Histidin (histidine), Isoleusin (isoleucine), Leusin (leucine), Lisin (Lysine), Metionin (methionine), Fenilalanin (phenilalanine), Prolin (proline), Serin (Serine), Treonin (Threonine), Triptofan (Tryptophan), Tirosin (tyrosine), Valin (valine).
Untuk pemacuan pertunbuhan larva ikan maka komposisi pakan ikan harus ada keseimbangan antara karbohidrat, protein dan lemak, dimana ketiga nutrien tersebut merupakan sumber energi bagi ikan untuk tumbuh dan berkembang yang maksimum.




BAB IV
KESIMPULAN DAN SARAN
4.1. Kesimpulan
a. Nutrisi ikan merupakan kandungan dari pakan ikan yang sangat dibutuhkan bagi pertumbuhan dan perkembangan.
b. Nutrient yang diperlukan diantaranya protein, karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral bagi pemangsanya.
c. Jumlah komposisi nutrient yang diperlukan karbohidrat (25 %), protein (30-40%), lemak 8-10% serta vitamin dan mineral masing-masing 1%.
d.  Manfaat nutrient bagi ikan baik untuk pertumbuhan maupun untuk menghasilkan tenaga selain itu dibutuhkan untuk membangun otot, sel-sel jaringan tubuh, enegi dan lain-lain terutama bagi ikan-ikan muda.
4.2. Saran
Setelah pembuatan makalah ini dan presentasi oleh masing-masing kelompok maka diharapkan ada penjelasan pokok materi kembali dari dosen pengajar kembali agar proses pembelajaran atau materi yang di bahas semakin jelas dan dipahami oleh seluruh mahasiswa yang mengikuti kuliah mata kuliah nutrisi ikan air tawar ini.



DAFTAR PUSTAKA

Adelina, I., Boer, dan Suharman, 2004. Diktat dan Penuntun Praktikum Analisa Formulasi Pakan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Riau. Pekanbaru 2006. 60 hal.
Anonimus. 2003. Budidaya pendederan dan pembesaran ikan gurame. Tim Penelitian dan Pengembangan Biro Kredit Bank Indonesia . Jakarta. 113 hal.
Asmawi, S., 1983. Pemeliharaan Ikan dalam Keramba. Gramedia. Jakarta. 82 hal.
Bogor Agricultural university. 2006. Institute Pertanian Bogor.
Cruz, M. E. 1986. Buku Pegangan Latihan makanan Ikan. Proyek Pengembangan Perikanan Skala Kecil. USAID. Direktorat Jenderal perikanan. Jakarta. 102 hal.
Djarijah, A. S., 1995. Pakan Alami. Kanasius. Yayasan Pustaka Nusatama Yogyakarta. 87 hal.
Djuhanda, T. 1981. Dunia Ikan. Amrico Bandung. 191 hal.
ELLIOT, J.M. 1979 . Energetic of freshwater teleost, p . 9-61 . dalam P.J . MILLER (Ed). Fish phenology adaptive . Acad . Press . Inc . London .
HALVER, E. JOHN and RONALD W. WARDY. 2002 . Fish Nutrition . 3 1 Edition . Academic press. Tokyo. 822p.
HANDAYANI, SRI.1997. Dosis optimum 3, 5,3'Triyodotironin (T3) dalam pakan untuk pertumbuhan ikan gurame (Osphronemus gouramy Lac). Desertasi. Pasca Sarjana . institut Pertanian Bogor, Bogor.
HEPHER, B . and Y. PRUGININ . 1983. Commercial Fish Farming with Special Reference to Fish Culture in Israel . John Wiley and Sons . Inc .Canada. 261p.
Ismet Leuge Perlak. 2009. Nutrisi Ikan. 28 Februari 2013. 09.00.
LANNAN J.E., R. ONEAL SMITHERMAN and GEORGE ICHOBANOGLAUS. 1983. Principles and Practices of Pond aquaculture. Oregon State University . p . 103-115 .
[NRC]  National  Research  Council,  Subcommite  on Warmwater Fish Nutrition. 1993. Nutrient  requirements of fish.  Washington DC : National Academy of science, 114 pp.Peres H. and  Teles AO. 1999.  Effect  of  dietary  lipid  level  on growth  performance and feed utilization by European sea bass juveniles (Dicentrarchus  labrax). Aquculture, 179: 325-334.
SUHENDA N. dan WAHYU HIDAYAT . 1991 . Pengaruh pemberian pakan dengan kandungan protein berbeda terhadap pertumbuhan benih ikan gurame.
Susanto. S. R. 1995. Ikan Nila. Penebar Swadaya. Jakarta. 105 hal.
Yurisman, Sukendi. 2004. Biologi dan Kultur Pakan Alami. Pekanbaru. UNRI Press.